Minggu, 20 Juli 2008

GADIS MISTERIUS

LOGLINE:

Kisah roman-tragedi tentang seorang pelukis muda yang terobsesi pada gadis cantik yang pernah dilihatnya di tepi jurang. Obsesinya itu menjadi kenyataan ketika dia berkenalan dengan Lilis, resepsionis di sebuah kafé yang mempunyai wajah sangat mirip dengan wanita impiannya itu. Cerita kemudian berkembang setelah wanita yang dicintainya itu pun menghilang begitu saja dan dia dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal.


Gadis Misterius

90 minutes movie screenplay

1. Ext. Pantai - Pagi

CLOSE UP pantai dan lautan luas.

ROLLING OPENING TITLE

CAMERA PAN TO Alam sedang duduk melukis.

CAMERA PAN TO

Lilis berjalan menyusuri pantai sambil menangis.

BACK TO Alam memandang kagum kearah Lilis, tersenyum, lalu melanjutkan melukis.

CAMERA FOLLOW

Lilis berjalan menyusuri pantai sambil menangis.

BACK TO Alam melukis.

CAMERA PAN TO

Lilis sedang berdiri di tepi batu karang sambil menangis, lalu memandang ke laut.

BACK TO

Alam memandang kearah Lilis dengan ekspresi heran.

Alam

(bangkit, tersenyum)

Aduh! Ngapain, tuh cewek naik-naik ke bukit? (tertawa) Nggak-nggak, nggak boleh! Gue tuh, nggak boleh kena, gara-gara cewek, nggak-nggak, pokoknya gue harus ngelukis! Nggak. Nggak boleh, gue harus ngelukis! (tertawa) Cewek…

CAMERA PAN TO

Lilis sedang berdiri di tepi batu karang sambil menangis, dia memandang ke laut, bersiap-siap melompat, lalu memejamkan mata, lalu memandang ke bawah.

BACK TO

Alam

(tertawa)

Hampir aja lukisan gua rusak gara-gara cewek. Tapi, gua normal, kan, ya, suka ama cewek? Kalau gua suka ama cowok, berarti gua homo! (tertawa) Hah! Nggak mungkin! Tapi, kok gua jadi penasaran gini sih ama tuh cewek, ngapain sih dia di situ, ya?

CAMERA PAN TO

Batu karang tanpa Lilis.

BACK TO

Alam heran, bangkit dari duduknya.

Alam

(kaget)

Hah?!

CAMERA PAN TO

Batu karang tanpa Lilis.

BACK TO

Alam panik seketika.

Alam

(panik)

Hah?! Celaka! Kemana dia?!

Alam makin panik, lalu bangkit dari duduknya.

CAMERA FOLLOW

Alam berlari menuju tepi jurang.

CAMERA PAN TO

Alam tiba di tepi jurang, akan tetapi dia tidak lagi menemukan Lilis disitu.

CAMERA PAN TO

Terlihat sehelai sapu tangan di tepi karang.

BACK TO

Alam menuruni batu karang, lalu mengambil sapu tangan itu, mencari-cari, lalu naik lagi ke atas batu karang.

FADE OUT

FADE IN

2. Ext. Kawasan Puncak - Pagi

ROLLING TEXT 5 tahun kemudian…

ZOOM IN kawasan puncak.

FADE OUT

FADE IN

3. Ext. Vila Puncak - Pagi

CLOSE UP Lukisan-lukisan Alam.

CAMERA PAN TO

Alam sedang duduk-duduk santai di teras vila seorang diri. Alam menghirup dalam-dalam segarnya udara pagi di kawasan Puncak. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Aku sangat terkesan dengan villa Pak Willy ini. Dia tidak pernah mau menerima pemberian sewa dariku, malah sebaliknya, aku selalu memperoleh harga yang tinggi untuk setiap lukisanku yang dikoleksinya. Katanya, dia sangat menyukai lukisan-lukisanku. Menurut Pak Willy, lukisanku sangat ekspresionis.

Alam terlihat masih duduk-duduk santai di teras vila. Dia kemudian mengambil cangkir tehnya, lalu menghirup isi cangkir itu pelan-pelan, lalu memandang kearah lukisan Lilis. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Salah satu lukisan yang sangat disenangi Pak Willy adalah lukisan seorang wanita cantik yang kukatakan padanya, hanya ada di dalam khayalanku itu. Aku menamai lukisan itu, cintaku yang hilang.

4. Int. Rumah Pak Willy - Pagi

Tante Anita mengangkat gagang telepon, lalu menelepon.

5. Ext. Vila Puncak - Pagi

Alam terlihat masih duduk-duduk santai di teras vila. Tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Alam meraih handphone-nya.

Alam

Halo?

Tante Anita

(O.S)

Halo, Al. Apa khabar?

Alam

Halo tante. Saya baik-baik aja.

Tante Anita

(O.S)

Baru bangun, ya?

Alam

Iya. Saya baru mandi sih. Tante lagi dimana, nih?

Tante Anita

(O.S)

Masih di rumah. Saya punya kabar baik untukmu, Al.

Alam

Kabar apa, tante?

Tante Anita

(O.S)

Pak Willy mau invest buat galeri kamu!

Alam

(girang)

Oh, ya?!

Tante Anita

(O.S)

Gimana, kamu setuju, kan?

Alam

Ya, tentu aja Alam setuju banget.

Tante Anita

(O.S)

Sekarang kamu bukan pelukis pemula lagi.

Wajar kalau banyak orang bersedia membantu kamu

Termasuk Pak Willy itu, Al.

Alam

Selama ini memang saya lihat Pak Willy sangat apresiatif pada lukisan-lukisan saya.

Tante Anita

(O.S)

He, eh. Saya juga heran, Al. Dulu, suami saya itu nggak pernah tertarik pada seni lukis. Tapi begitu saya ajak sekali ke galerimu itu, dia langsung tergila-gila pada lukisan kamu.

Alam

(tersenyum)

Saya berhutang budi pada tante.

Tante Anita

(O.S)

Ah, nggak juga. Lukisanmu memang bagus-bagus kok, Al.

Alam

(tersenyum)

Jadi, sekarang gimana?

Tante Anita

(O.S)

Oke, sekarang kamu beres-beres. Setelah itu kamu langsung ke Jakarta. Saya tunggu di rumah, oke?

Alam

Ya tante, makasih.

Tante Anita

(O.S)

See you!

Alam menutup teleponnya.

6. Int. Rumah Pak Willy – Siang

Tante Anita melangkah menuju sofa di ruang tamu, Alam mengikutinya dari belakang.

Tante Anita

Silahkan duduk, Al.

Alam

Ya.

Alam menurutinya dengan menduduki salah satu dari empat buah sofa di ruang tamu yang luas dan megah itu. Tante Anita kemudian mengambil tempat persis berhadapan dengan Alam.

Tante Anita

Menurut Pak Willy, galerimu yang ada sekarang itu terlalu kecil dan letaknya nggak strategis. Dia menyarankan kamu mencari tempat lain yang lebih baik.

Alam

Memang benar, tante. Hal tersebut sebenarnya sudah saya pikirkan sejak lama, tapi selalu terbentur oleh masalah klasik…

Alam belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdegar suara Pak Willy memotong pembicaraan mereka.

Pak Willy

(O.S)

Dana?

Alam dan Tante Anita menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara berada.

CAMERA PAN TO

Pak Willy nampak tersenyum.

Pak Willy

Itu masalah kecil, Al. Saya bisa mencarikan tempat yang lebih baik untukmu.

BACK TO

Alam

(mengangguk tersenyum)

Terima kasih, Pak Willy.

Pak Willy kemudian mengambil tempat di samping Tante Anita.

Tante Anita

(tersenyum kepada Alam)

Gimana, Al. Kamu setuju dengan tawaran kami?

Alam

(mengangguk ragu-ragu)

Ya. Saya sangat berterima kasih pada tawaran Pak Willy. Selama ini Bapak sudah terlalu banyak membantu saya, saya nggak tau bagaimana harus membalasnya.

Pak Willy

(tertawa)

Kamu memang pantas untuk itu… Bagi saya kamu adalah pelukis muda yang sangat potensial. Sayang kalau lukisan-lukisanmu itu hanya dipajang di galeri yang kecil dan terpencil seperti sekarang.

Tante Anita

Iya, Al. Di tempat yang baru, saya yakin akan lebih banyak orang yang akan datang mengunjungi galerimu.

Alam nampak menanggapinya dengan mengangguk-angguk.

Pak Willy

Ya, dan saya sudah mendapatkan tempat yang bagus dan strategis untukmu di daerah Kemang.

Alam

(girang)

Kemang?

Pak Willy

Ya, Kemang adalah tempat yang paling cocok untuk galerimu. Saya berharap kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik.

Alam

(tersenyum)

Ya, pak.

7. Int. Kafé – Tengah malam

Kerlap-kerlip cahaya lampu beraneka warna menghiasi ruangan kafé yang temaram, suara musik disko menghentak di seluruh ruangan. Ruangan dipenuhi oleh para pengunjung yang sebagian besar sibuk dengan obrolan santainya.

INTERCUT

Di sebuah meja sekelompok gadis muda nampak sedang mengobrol seru sambil tertawa cekikikan.

INTERCUT

Di sudut lain sekelompok anak muda pria dan wanita asyik berjingkrak-jingkrak mengikuti hentakan irama musik.

INTERCUT

Di sisi bar tender Alam duduk seorang diri ditemani segelas cognac yang tinggal seperempatnya dan sepiring kalamari. Sambil menghisap sebatang rokok kretek, dia mengamati keriuhan suasana di ruangan itu. Seorang Bar Tender kemudian mendekatinya.

Bar Tender

(tersenyum ramah)

Tambah minumannya, Oom?

Alam

(mengangguk tersenyum)

Boleh.

Bar tender menuangkan isi botol cognac-nya ke gelas Alam sampai penuh.

Bar Tender

(tersenyum)

Silahkan…

Alam

(mengangguk tersenyum)

Thanks (memberikan tips langsung)

Alam begitu menikmati suasana di malam itu, sampai pandangannya tertuju kepada seorang wanita, Lilis.

CAMERA PAN TO

Lilis nampak sedang sibuk menyambut para pengunjung yang terus berdatangan. Merasa ada seseorang yang memperhatikannya, dia menoleh.

BACK TO

Alam terus memandangi wajah Lilis dengan senyum simpatik.

CAMERA PAN TO

Sesaat Lilis juga menatap Alam, lalu memalingkan pandangannya.

BACK TO

Alam nampak masih tetap memandangi Lilis dengan kagum.

CAMERA FOLLOW

Lilis melangkah ke arah Alam dengan senyum simpulnya.

Lilis

(tersenyum ramah)

Selamat malam, Mas. Ada yang bisa saya bantu?

Alam

(agak grogi)

Oh, nggak. Saya cuma mau nanyain sesuatu.

Lilis

(mengambil tempat di hadapan Alam)

Boleh, silahkan.

Alam

Sepertinya kita pernah ketemu…

Lilis

(tersenyum)

Oh, ya. Dimana?

Alam

(mengerutkan dahi berpura-pura lupa)

Mmm… Dimana, ya?

Lilis

(tersenyum)

Lupa?

Alam

(mengangguk)

Kira-kira begitu.

Lilis

(tertawa ringan)

Iya, itu mungkin aja. Saya juga lupa.

Alam

Kalau boleh tau, nama Mbak siapa ya?

Lilis

(mengulurkan tangannya lebih dulu)

Nama saya, Lilis. Anda?

Alam

(membalas uluran tangan)

Saya Alam.

Mereka bersalaman.

Alam

Lilis udah lama kerja di sini?

Lilis

(menggeleng)

Saya bekerja di sini belum sebulan.

Alam

(mengangguk-angguk)

Oh… Baru dong. Sebelumnya dimana?

Lilis

Sebelum balik ke sini, saya pernah kerja di restoran di Bali.

Alam

Oh, ya? Asyik dong. Kok, Lilis malah balik ke sini?

Lilis

(berpikir sejenak, lalu)

Ya… Gimana ya? Kayaknya lebih enakan di sini lebih deket dari kampung sendiri.

Alam

Home sick?

Lilis

(tertawa ringan, lalu)

Ya, semacam itulah. Anda sendiri sering ke sini?

Alam

Mmm… Sekarang sih udah agak jarang, kalo dulu aku sering bareng temen-temen.

Lilis

(mengangguk)

Gimana dengan pelayanan kami, memuaskan?

Alam

(tersenyum)

Sangat memuaskan!

Lilis

(balas tersenyum)

Oh, ya? Terima kasih.

Alam

Kayaknya saya akan sering-sering ke sini.

Lilis

(tersenyum)

Kami akan menyambut Anda dengan senang hati.

8. Int. Jalan Raya - Tengah Malam.

Alam terlihat sedang mengemudikan kendaraannya dengan wajah yang ceria, terkadang dia nampak tersenyum sendiri. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Lilis… Wajahnya sangat mirip dengan gadis itu. Ya, gadis yang pernah kulihat lima tahun yang lalu. Gadis yang telah menjadi sumber inspirasiku selama ini. Terima kasih, Tuhan. Kau telah pertemukan aku dengan gadis yang aku impi-impikan selama ini. Ini pertemuan kita yang pertama, tapi bukan yang terakhir…

9. Ext. Kampus Alam - Siang

Alam nampak keluar dari kelas bersama teman-temannya, kuliah baru saja selesai. Alam kemudian bergegas melangkah ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari ruang kelas. Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponselnya, dia segera meraihnya.

Alam

Halo?… Oh, tante… Ya, masih di kampus…… Boleh, kebetulan, tante. Saya belum makan, nih(tersenyum) … Dimana?… Oke, tante. Saya segera ke situ… Iya, dalam lima menit… Oke.

Alam menekan tombol ponselnya, kemudian bergegas menaiki jok mobilnya. Tidak berapa lama kemudian, mobilnya berlalu.

10. Ext. Jalan Raya - Siang

Terlihat mobil Alam melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.

11. Int. Jalan Raya - Siang

Alam nampak mengemudikan mobilnya dengan serius. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Lilis… Nanti malam, aku harus ketemu kamu lagi…

Aku harus memilikimu Lis… Kamulah gadis dalam lukisanku

Yang membuat aku jadi terkenal seperti sekarang ini

Kamulah sumbet inspirasiku Lis…

Tiba-tiba ditengah lamunannya, Alam dikejutkan oleh sesuatu yang ada di depan mobilnya.

CAMERA PAN TO

Terlihat Ibu Yuni sedang menyeberang jalan.

BACK TO

Alam panik seketika, lalu membanting setirnya.

Walaupun Alam sudah berusaha menghindar, mobilnya masih mengenai tubuh Ibu Yuni. Ibu itu terjatuh pingsan. Alam segera mengerem kendaraannya, lalu melompat turun dan langsung mengangkat tubuh Ibu Yuni yang tergeletak pingsan. Beberapa orang yang ada di sekitar itu ikut membantu. Alam menaikkan tubuh Ibu Yuni ke dalam mobilnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang tersebut, Alam segera mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.

12. Int. Rumah sakit - Siang

Alam nampak sangat gelisah, dia mondar-mandir di ruang tunggu unit gawat darurat. Tidak berapa lama kemudian pintu ruang unit gawat darurat terbuka, muncul Pak Dokter dari balik pintu. Alam lalu bergegas menghampirinya.

Alam

Gimana keadaannya, Dok?

Pak Dokter

(tersenyum)

Nggak apa-apa kok, cuma luka ringan.
Apa anda Keluarganya?

Alam

(lega)

Bukan. Tapi saya akan menunggu sampai keluarganya datang. Saya boleh masuk, dok?

Pak Dokter

(tersenyum)

Boleh, silahkan.

13. Int. Rumah sakit - Siang hari.

Alam nampak sedang duduk di kursi di samping tempat tidur Ibu Yuni. Alam menyuapi Ibu Yuni, sambil berbincang dengan akrab.

Alam

Bagaimana keadaan Ibu?

Bu Yuni

(tersenyum)

Anak ini… siapa ya?

Alam

Saya sebelumnya mau minta maaf… Sayalah orangnya

yang menabrak Ibu….

Bu Yuni

Ohh….

Alam

Nama saya Alam, Bu. Sekali lagi saya minta maaf.

Bu Yuni

Namanya juga kecelakaan, bukan salah siapa-siapa, Nak.

Mungkin juga ibu yang salah, lengah, menyebrang jalan

Tanpa nengok kanan kiri. Mustinya ibu inilah yang

Berterimakasih pada Nak Alam.

Alam

(balas tersenyum)

Ah, ibu bisa aja. Justru saya yang harus mengucapkan terima kasih karena ibu mau memaafkan saya yang sudah mencelakakan ibu.

Bu Yuni

(tersenyum)

Sesama manusia memang harus saling memaafkan, nak.

Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Alam menoleh dan mempersilahkannya masuk.

Alam

Silahkan masuk.

Pintu terbuka, dari balik pintu muncul Lilis dengan wajah cemas. Alam nampak terkejut begitu melihat kehadiran Lilis disitu, begitupun dengan Lilis. Mereka tidak menduga akan bertemu di situ.

Alam

(heran)

Lilis?

Lilis

(heran)

Mas Alam…?

Bu Yuni

(tersenyum)

Lho kok sepertinya Kalian berdua sudah saling kenal?

Lilis segera menghampiri Ibu Yuni dengan wajah yang penuh dengan kecemasan, dia memegang tangan ibunya itu.

Lilis

(dengan suara bergetar)

Kenapa bisa jadi begini, Bu?

Bu Yuni

(tersenyum)

Ibu nggak apa-apa kok, Lis. Cuma luka ringan.

Alam

Menurut dokter besok Ibu udah bisa keluar, cukup dengan rawat jalan aja.

Bu Yuni

Nak Alam ini yang menolong Ibu ke sini.

(menoleh dan menyentuh tangan Alam)

Alam

Saya juga yang menabraknya…

Lilis

(terkejut dan menatap Alam)

Bu Yuni

(cepat-cepat memotong)

Ah, Nak Alam ini gimana. Ibu kok yang salah, mau nyebrang nggak liat-liat dulu. Namanya juga musibah, bisa terjadi kapan aja.

Lilis nampak terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, dia tersenyum pada Alam.

Lilis

(tersenyum)

Terima kasih, Mas Alam sudah membawa Ibu ke sini.

Alam

(tersenyum)

Sama-sama, Lis. Saya janji akan lebih hati-hati lagi bawa kendaraan.

Lilis

(mengangguk tersenyum)

Bu Yuni

(memandang keduanya secara bergantian)

Oh, ya. Ngomong-ngomong. Kalian udah lama ya saling kenalnya?

Alam dan Lilis saling menatap dan tersenyum.

Lilis

(tersenyum)

Belum lama kok Bu, Kami kenalan di kafe baru kemarin malam.

Bu Yuni

Oh, astaga. Kirain udah lama kenalannya. Kelihatannya udah akrab banget (tersenyum menggoda)

Alam

(tersenyum)

Lilis

(tersipu)

Ah, Ibu bisa aja kalo godain orang.

Alam

(pamit ke Ibu Yuni dan Lilis)

Oh, ya. Bu, Lilis. Kayaknya saya udah harus pamit, nih.

Bu Yuni

Lho, kok buru-buru, Nak?

Alam

(bangkit dari tempat duduknya)

Saya ada janjian, Bu. Besok pagi, saya anterin pulang ya?

Bu Yuni

Jangan repot repot…

Alam

Ijinkan saya melakukannya Bu. Kalau tidak saya

Akan merasa bersalah sama Ibu.

Bu Yuni

Baiklah, kalau begitu…

Alam

(tersenyum)

Ya, Bu. (menoleh ke Lilis) Lilis saya pamit dulu.

Lilis

(mengangguk tersenyum)

Ya. Hati-hati, ya Mas. Jangan nabrak orang lagi.

Alam kemudian berlalu. Ibu Yuni menatap dengan lega, sementara Lilis dengan tatapan kagum.

14. Int. Rumah Pak Willy - Malam

Tante Anita dan pembantu rumah tangganya nampak sedang sibuk mengatur hidangan makan malamnya.

Tante Anita

(menunjuk sisi sebelah kanan meja)

Tolong, buahnya di sebelah situ aja.

Pembantu rumah tangga

Ya, Bu.

Terdengar suara bel dari pintu depan.

Tante Anita

Tolong, dibukain pintunya.

Pembantu rumah tangga

Ya, Bu.

Pembantu rumah tangga bergegas menuju pintu depan, sementara Tante Anita masih sibuk menata hidangan makan malamnya. Tidak berapa lama kemudian, Alam muncul.

Alam

(tersenyum)

Selamat malam, tante?

Tante Anita

(menoleh tersenyum)

Hai, Al. Sini, langsung aja.

Alam

(melangkah ke arah meja makan)

Sorry tante. Saya telat, nih.

Tante Anita

(tersenyum)

Oh, nggak. Hidangannya juga baru selesai, kok.

Alam menduduki salah satu kursi di ruang makan itu, Tante Anita mengambil tempat persis di depannya.

Alam

Oh, ya Tante. Pak Willy mana?

Tante Anita

(tersenyum)

Oh, dia minta maaf nggak bisa makan malam bareng kita. Dia keluar kota sejak tadi sore, meeting.

Alam

Mendadak, ya?

Tante Anita

Iya. Tante sering kesepian lho, Al. (melirik genit)

Alam

Tapi, kan besok udah balik ke Jakarta lagi?

Tante Anita

(sambil menyendok nasi buat Alam)

Iya, sih. Tapi kok meetingnya di luar kota melulu.

Alam

Saya juga ingin minta maaf, tadi nggak jadi memenuhi undangan makan siang Tante.

Tante Anita

(menyerahkan sepiring nasi)

Nggak apa-apa kok, namanya juga kena musibah. Oh, ya. Gimana dengan Ibu itu, lukanya nggak parah, kan?

Alam

(menerima sepiring nasi)

Nggak, besok udah bisa balik ke rumahnya.

Tante Anita

(sambil menyendok nasi buat dirinya)

Syukurlah.

15. Int. Vila Puncak - Malam

Pak Willy nampak sedang memandangi dengan serius lukisan wanita yang dibelinya dari galeri Alam itu. Tidak jauh dari tempat Pak Willy memandangi lukisan itu, pintu salah satu kamar terbuka. Dari balik pintu, muncul Anne dengan pakaian tidur yang minim. Wanita itu kemudian melangkah diam-diam ke arah Pak Willy yang masih tidak menyadari kehadiran Anne.

Anne

(memandang lukisan itu, curiga)

Cantik juga, lukisan siapa itu?

Pak Willy

(menoleh kaget)

Oh, Anne. Belum tidur?

Anne

Lukisan siapa?

Pak Willy

(grogi)

Oh, ini lukisannya Alam. Dia pelukis muda yang sangat berbakat.

Anne

Bukan, maksudku wanita yang ada di lukisan itu.

Pak Willy

Kata Alam, ini lukisan wanita impiannya.

Anne

(mencibir)

Impian Alam, impianmu juga?

Pak Willy

(tersenyum sambil mencubit pipi Anne)

Kamu cemburu, ya?

Anne

(sinis)

Uh, sorry. Aku lebih cakep dari dia.

Pak Willy

(tertawa ringan)

Kenapa kamu belum tidur juga, besok kan kamu kuliah? Kita harus balik ke Jakarta pagi-pagi.

Anne

(mendekap Pak Willy dari belakang)

Aku nggak bisa tidur, sayang.

Pak Willy

(menoleh kebelakang)

Dasar manja!

16. Int. Rumah sakit - Siang

Alam menghampiri meja resepsionis rumah sakit, lalu bertanya kepada seorang perawat wanita.

Alam

Maaf, Mbak. Saya ingin mengunjungi pasien atas nama Ibu Yuni.

Perawat Wanita

Ibu Yuni sudah keluar sejak pagi tadi, Pak.

Alam

(heran)

Tadi pagi? Ada yang jemput?

Perawat Wanita

(mengangguk)

Iya, dijemput oleh keluarganya.

Alam

(mengangguk)

Oh. Terima kasih, Mbak. Mari…

Perawat Wanita

(mengangguk tersenyum)

Iya, Pak.

Alam kemudian bergegas pergi.

17. Ext. Kafe - Malam

Sebuah mobil nampak berhenti di halaman parkir kafe. Tidak berapa lama kemudian pintu kafe terbuka, dari balik pintu muncul Lilis yang melangkah menuju mobil sambil menenteng tas. Lilis menaiki jok depan, lalu mobil itu pun berlalu.

18. Int. Jalan Raya - Malam

Alam nampak sedang mengemudikan mobilnya sambil berbincang-bincang dengan Lilis yang duduk disampingnya.

Alam

Waktu ngejemput Ibu tadi pagi, kamu kok nggak ngasi tau aku. Aku kan bisa nganterin kalian.

Lilis

(menoleh tersenyum)

Maaf. Aku cuman nggak mau ngerepotin kamu, Al.

Alam

(jengkel)

Nggak dong, itukan udah kewajibanku?

Lilis

(menoleh)

Oke, deh. Sorry. Jangan ngambek dong, Al?

Alam

(berpura-pura marah)

Ngambek, ah.

Lilis

(lirih)

Supaya kamu nggak ngambek lagi, gimana dong?

Alam

Lilis harus mau aku traktir malam ini.

Lilis

(tertawa ringan)

Boleh.

19. Int. Galeri Alam - Pagi

Alam dan temannya Deddy, nampak sedang sibuk mengatur letak lukisan-lukisannya di galerinya yang baru itu.

Deddy

(memandangi letak lukisan-lukisan yang baru dipajangnya)

Gue pikir, letaknya udah pas.

Alam

(mengangguk-angguk)

Boleh.

Deddy

Gimana, pembukaan nanti? Siapa aja yang loe undang?

Alam

Pak Willy dan Tante Anita sudah mengundang teman-teman bisnisnya dan juga beberapa orang kolektor lukisan. Gue pikir itu udah cukup sebagai permulaan.

Deddy

(mengangguk)

Boleh juga. Cewek loe nggak loe undang?

Alam

Siapa?

Deddy

(tersenyum)

Ah, loe. Emangnya gue kagak tau? Loe kan sedang pedekate ama cewek yang di kafe itu.

Alam

(tersipu)

Sok tau, loe!

20. Ext. Galeri Alam - Malam

Mobil Alam nampak berhenti di halaman depan galerinya. Tidak berapa lama kemudian, Alam bergegas turun dan membukakan pintu mobil buat Lilis. Mereka kemudian berjalan ke pintu depan galeri.

Alam

Aku pengen nunjukin lukisan wanita cantik.

Lilis

(berpaling ke arah Alam dan tersenyum)

Oh, ya? Boleh juga.

21. Int. Galeri Alam - Malam

Alam dan Lilis melangkah di ruang galeri yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan Alam yang sudah tertata rapi. Bunyi lonceng dari sebuah jam antik yang berdiri di sudut mengiringi langkah mereka. Tepat Pukul 21:00.

Alam

(menunjuk ke arah salah satu lukisan yang terpampang di dinding)

Coba lihat lukisan itu.

Lilis nampak tercengang sesaat begitu melihat lukisan dalam pigura itu.

CAMERA PAN TO

Terlihat lukisan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Lilis.

BACK TO

Lilis menghampiri lukisan itu, lalu ditatapnya dalam-dalam seperti ada sesuatu di situ. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, Alam kemudian menghampirinya.

Alam

Gimana?

Lilis tidak bereaksi, matanya nampak berkaca-kaca.

Lilis

(tetap memandangi lukisan)

Kamu yang membuat lukisan ini?

Alam

Ya, aku pingin tahu gimana pendapatmu mengenai lukisanku itu.

Sesaat Lilis berpaling ke arah Alam seakan tak percaya, lalu kembali memandangi lukisan itu. Ada isyarat kekaguman di wajahnya.

Lilis

(tetap memandangi lukisan itu, dengan mimik serius)

Aku nggak habis pikir, gimana kamu bisa melukis wajahku semirip ini, Al?

Alam

(memandangi wajah Lilis)

Lilis menyukai lukisan itu?

Lilis

(mengangguk tersenyum, tetap memandangi lukisan itu)

Ya.

Alam

Aku bersedia membuatkan yang lebih baik dari ini, khusus untukmu.

Lilis

(berpaling ke arah Alam dengan mimik antusias)

Sungguh? Kapan?

Alam

Malam ini!

Lilis

(membelalakkan kedua bola matanya, tak percaya)

Malam ini?

Alam

(Mengangguk)

Kenapa, nggak bisa?

Lilis

Oh, bukan begitu. Apa kamu udah siap?

Alam

(tersenyum)

Aku selalu siap untuk wanita secantik kamu.

Lilis

(tersipu)

Ah, kamu bisa aja.

Alam

Oke, biar aku nyiapin peralatannya dulu ya?

INTERCUT

Alam bergegas ke kanvas. Lilis pun segera mengambil tempat di atas sofa, Alam memperhatikannya.

CAMERA PAN TO

Terlihat Lilis melangkah ke sofa dengan gerakan pinggulnya yang ramping. Lilis mengambil posisi dengan melipat kedua kakinya dan menutupi ujung roknya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menopang dagunya. Kedua bibirnya menyunggingkan senyuman yang memikat.

Lilis

(tersenyum)

Oke?

BACK TO

Alam nampak menatap wajah Lilis dengan serius, dan mulai melukis.

Alam

Oke, kita mulai.

CAMERA PAN TO

Alam mulai menarik goresan demi goresan, kuasnya menari-nari di atas kanvas.

BACK TO

Alam nampak serius melukis.

FADE OUT

FADE IN

Alam menyelesaikan lukisannya.

Alam

Lilis, aku rasa cukup. Tinggal finishing-nya aja.

Lilis

(girang)

Oke!

Lilis kemudian menghampiri Alam yang masih duduk di depan kanvasnya, dipandanginya lukisan dirinya.

CAMERA PAN TO

Terlihat lukisan Alam yang menggambarkan wajah Lilis.

BACK TO

Lilis

(memandangi kanvas dengan ekspresi kepuasan)

Kerja yang bagus!

Alam

Ini belum sempurna, aku masih harus memperbaikinya.

Lilis

Selesainya, kapan?

Alam

Besok siang Lilis udah bisa mengambilnya.

Lilis

(tersenyum)

Sesaat kedua saling bertatapan mesra.

Lilis

Aku mungkin nggak bakal sanggup membayar lukisan ini sesuai dengan harga yang diberikan kolektor-kolektor berduit itu, tapi aku ingin memberimu…

Sebelum Lilis melanjutkan ucapannya, Alam buru-buru menempelkan kedua jarinya dibibir Lilis.

Alam

Aku nggak butuh kompensasi apapun darimu. Sebaliknya aku mau berterima kasih padamu.

Lilis

Untuk apa?

Alam

Karena wajah kamulah yang menjadi inspirasiku selama ini… Sekalipun aku belum berkenalan denganmu…

Kecantikanmu telah membukakan jalan bagiku untuk menjadi pelukis yang cukup punya nama seperti sekarang ini… (tersenyum) Sekarang Tuhan telah mempertemukan kita. Aku hanya minta satu hal darimu, Lis….

Lilis

Apa?

Alam

Aku sayang kamu…

Lilis

(menatap tajam ke wajah Alam)

Kamu nggak sedang menggombali aku, kan?

Alam

(balas menatap)

Sejak pertama kali berkenalan, kamu telah membuatku simpati. Kamu bukan aja cantik, tapi juga sangat perhatian. Aku juga terkesan dengan usahamu selama ini mencari nafkah untuk keluargamu. Kamu bahkan nggak pernah mikirin masa depanmu sendiri.

Lilis

Itu udah kewajibanku, Al.

Alam

Ya, dan itu yang membuat aku semakin sayang padamu.

Lilis

(tersipu)

Terima kasih.

Sesaat mereka saling bertatapan lagi, mesra.

Lilis

(mengecup pipi Alam)

Terima kasih atas segalanya.(tersenyum, lalu berdiri)

Udah larut… Kamu harus mengantarku pulang, Al.

Alam

(meraih pergelangan tangan Lilis)

Aku masih ingin bersamamu beberapa menit lagi, please…

Lilis menurutinya. Dia duduk kembali di hadapan Alam, lalu mendekatkan mukanya ke muka Alam. Sangat dekat. Wajah Lilis berbinar cerah. Alam memandangi kedua bibir merahnya yang merekah. Sebelum sempat mengucapkan sesuatu, Alam mengecup bibir Lilis lembut. Lilis hanya diam. Alam menatap matanya, Lilis tertunduk malu.

FADE OUT

FADE IN

Alam kembali mengecup bibir Lilis, kali ini Lilis menyambutnya mesra.

FADE OUT

FADE IN

22. Ext. Galeri Alam - Pagi

ZOOM IN KAMPOENG ALAM GALLERY

23. Int. Galeri Alam - Pagi

Galeri Alam baru saja diresmikan. Pak Willy selaku penyandang dana nampak sedang memberikan kata sambutan, disaksikan oleh Alam, Deddy, Tante Anita, dan para undangan dan pengunjung.

Pak Willy

(tersenyum)

Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak dan Ibu sekalian untuk hadir dalam peresmian galeri ini. Tentu Anda bertanya-tanya, mengapa saya begitu antusias untuk meresmikan galeri ini? Jawabannya hanya satu, Alam adalah seorang pelukis muda yang potensial. Benar-tidaknya ucapan saya ini, bisa Anda lihat sendiri pada lukisan-lukisan yang dipajang di ruangan ini. Aplaus untuk Alam!

Para undangan dan pengunjung bertepuk tangan.

Pak Willy

(tersenyum)

Oke, saya kira saya tidak perlu terlalu berpanjang lebar di sini. Sekarang saya persilahkan Bapak dan Ibu untuk mencicipi hidangan kami yang seadanya ini sambil menikmati lukisan-lukisan di galeri ini, silahkan.

Para undangan dan pengunjung kemudian mencicipi hidangan sambil memandangi lukisan-lukisan yang dipajang di galeri itu.

INTERCUT

Alam nampak sedang melayani pertanyaan salah seorang pengunjung tentang lukisannya.

Pengunjung galeri

(mengamati salah satu lukisan Alam dengan serius)

Mmm… Kalo boleh saya menilai, Anda adalah seorang ekspresionis.

Alam

(mengangguk tersenyum)

maybe…

Kalimat Alam terhenti begitu dia mendengar Lilis menyebut namanya.

Lilis

(O.S)

Al…

Alam menoleh ke sumber suara.

CAMERA PAN TO

Terlihat Lilis tersenyum manis.

BACK TO

Alam

(tersenyum)

Lilis! (menoleh ke sang pengunjung)

Maaf, Pak. Saya ada perlu sebentar.

Pengunjung galeri

(mengangguk tersenyum)

Oh, ya. Silahkan.

Alam kemudian menarik lengan Lilis dan membawanya ke sudut ruangan.

Alam

Pagi ini kamu cantik sekali, Lis.

Lilis

(tersenyum)

Makasih

Alam

Darimana, kok baru nyampe?

Lilis

Maaf. Biasa, macet.

Alam

Udah sarapan?

Lilis

(menggeleng tersenyum)

Alam

(menggandeng tangan Lilis)

Yuk, aku juga belum.

Langkah mereka terhenti, begitu terdengar Pak Willy memanggil Alam.

Pak Willy

(O.S)

Al… Ini gadis impianmu itu?

Alam dan Lilis menoleh ke arah sumber suara.

CAMERA PAN TO

Terlihat Pak Willy menatap tajam ke arah Lilis.

BACK TO

Lilis nampak sangat terkejut melihat kehadiran Pak Willy disitu.

CAMERA PAN TO

Pak Willy

(kaget)

BACK TO

Lilis tidak menjawabnya. Wajahnya dipenuhi oleh histeria keterkejutan, matanya berkaca-kaca.

Lilis

(menahan emosi)

Lilis kelihatan panik, emosinya memuncak. Setelah melepaskan gandengan Alam, dia buru-buru pergi meninggalkan tempat itu. Alam yang sempat bengong, baru sadar ketika Lilis meninggalkannya. Alam pun bergegas mengejar Lilis.

Alam

(mempercepat langkahnya dengan heran)

Lis! Lilis???

24. Ext. Galeri Alam - Pagi

Lilis nampak keluar dari galeri dengan tergesa-gesa. Setibanya dipinggir jalan, dia segera menyetop taksi. Lilis menaiki jok belakang, dan berlalu saat itu juga. Alam yang baru keluar dari galeri, berusaha mengejarnya. Terlambat.

Alam

(berteriak)

Lilis!

25. Ext. Kostan Lilis - Sore

Alam mengetuk-ngetuk pintu depan. Tidak berapa lama kemudian, Ibu kost muncul dari balik pintu.

Alam

(tersenyum)

Selamat siang Bu’

Ibu Kost

(curiga)

Siang… Cari siapa Mas?

Alam

Maaf, Lilis ada Bu?

Ibu Kost

(makin curiga)

Lilis? Anda siapa, ya?

Alam

Nama saya Alam Bu’ Temennya Lilis.

Ibu Kost

Oh, maaf ya Mas. Di sini nggak ada yang namanya Lilis.

Alam

(heran)

Lho, kemarin saya menjemput Lilis di sini Bu’

Ibu Kost

(panik)

Oh, mungkin Anda salah alamat.

Alam

(jengkel)

Nggak mungkin, saya sering ke sini kok!

Ibu Kost

(emosi)

Kalo nggak percaya ya udah, maaf saya banyak kerjaan!

Ibu kost kemudian buru-buru menutup pintu.

Alam

(bengong)

Lho? Pasti ada yang nggak beres!

26. Ext. Kafé - Malam

Alam membelokkan kendaraannya ke halaman depan kafe, memarkirnya, lalu turun dan bergegas memasuki kafe tersebut.

27. Int. Kafé - Malam

Kerlap-kerlip cahaya lampu beraneka warna menghiasi ruangan kafé yang temaram. Ruangan nampak masih sepi, baru beberapa meja yang terisi.

INTERCUT

Alam datang dan berdiri di muka pintu, lalu melemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia kemudian menghampiri seorang waitress pria yang sedang merapikan kursi dan meja yang ada.

Alam

Maaf Mas, saya ingin ketemu Lilis.

Waitress Pria

(acuh tak acuh)

Dia ada di atas.

Alam bergegas menaiki tangga ke ruangan kafé di lantai II.

INTERCUT

Di sudut ruangan lantai II kafe, seorang wanita mengenakan seragam resepsionis sedang asyik memainkan tombol handphone-nya sendirian. Alam datang dan menghampirinya.

Wanita Resepsionis

(tersenyum ramah)

Apa khabar, Mas Alam. Lama nggak keliatan?

Alam

(heran)

Baik…

Wanita Resepsionis

(menunjuk sebuah meja kosong)

Mari aku antar ke meja sana.

Alam

Oh, nggak. Aku hanya ingin ketemu Lilis, Mbak melihat dia?

Wanita Resepsionis

(tersenyum)

Lilis yang mana?

Alam

(tegang)

Lilis resepsionis di sini. Setahuku hanya satu orang yang bernama Lilis di sini.

Wanita Resepsionis

(tertawa)

Mas Alam… Yang namanya Lilis di sini memang cuma satu, resepsionisnya juga cuma satu.

Alam

(dengan nada jengkel)

Kalau gitu dimana dia sekarang?!

Wanita Resepsionis

(tertawa lagi)

Mas Alam lupa ya, ama Lilis? Ini aku Lilis, Mas!

Alam

(emosi)

Jangan bercanda dong, aku serius. Aku ingin ketemu Lilis, bukan kamu!

Wanita Resepsionis

(serius)

Aku juga serius, Mas. Mas ini gimana sih, kayak belum pernah ketemu aku saja. Aku ini Lilis, Lilis yang mana lagi yang Mas maksud?!

Alam terperangah seketika. Ditatapnya dalam-dalam wajah wanita resepsionis itu. Tidak berapa lama kemudian Alam pergi tanpa berpamitan, wanita resepsionis itu memandangi kepergiannya dengan heran.

28. Int. Jalan raya - Malam

Alam terlihat sedang mengemudikan kendaraannya dengan wajah yang serius. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Lilis, Lilis… Kemanapun kamu pergi aku akan mencarimu!

29. Ext. Kampung daerah Puncak – Pagi

Alam nampak berkeliling kampung, dia bertanya tentang Lilis dan tempat tinggalnya di kampung itu kepada setiap orang yang dijumpainya.

MONTAGE

- Alam berhenti di sebuah kios, sembari membeli rokok dia juga kelihatan berbincang serius dengan penjaga kios.

Alam
(V.O)

Pagi ini aku mengelilingi kampung yang letaknya tidak jauh dari jurang tempatku dulu melihat sosok gadis yang mirip dengan wajah Lilis itu. Aku mencari informasi dari setiap orang yang aku jumpai di situ. Aku pikir sekaranglah saatnya aku mencari jawaban atas teka-teki yang selama ini menghantuiku. Aku harus memastikan apakah Lilis kekasihku itu adalah juga gadis yang pernah aku lihat lima tahun yang lalu?

- Alam berjongkok membeli pisang goreng, dia kemudian juga kelihatan berbincang bincang dengan penjual pisang goreng tersebut.

Alam

(V.0)

Aku Memberitahukan ciri-ciri Lilis yang aku cari, menanyakan dimana rumahnya. Dan, astaga! Semuanya memberikan jawaban yang sama! Lilis yang aku maksud adalah Lilis yang pernah aku lihat di jurang lima tahun yang lalu itu, dia sudah meninggal! Ibu dan adik-adiknya juga sudah lama pindah dari kampung itu dan tidak diketahui kabarnya. Mungkinkah mereka semua berbohong? Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan tetap mencarimu Lilis! Dan usahaku tersebut tidak sia-sia, aku bertemu seorang pria yang bersedia menceritakan segalanya.

FADE OUT

FADE IN

30. Int. Rumah Dede – Pagi

Alam dan Dede nampak sedang duduk dan bercakap-cakap di ruang tamu rumah Dede.

Dede

Aku memang tahu banyak tentang Lilis yang Anda maksud itu…

Sesaat Dede menarik nafas dan menghembuskannya kencang, lalu meneruskan ceritanya.

Dede

(serius)

Kami sudah saling kenal sejak kecil. Aku mencintainya… Aku bahkan pernah mengutarakan niatku untuk menikahinya, tapi dia menolak dengan alasan dia masih mempunyai tanggung jawab kepada ibu dan adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Ayahnya memang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan sebagai anak tertua dia merasa mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Dede terdiam sesaat, dilihatnya Alam yang nampak mengikuti penuturan Dede tersebut dengan serius. Dede lalu melanjutkan ceritanya.

Dede

Tapi aku tidak putus asa. Aku terus membujuknya untuk menerima cintaku, sampai kemudian akhirnya dia berterus terang kalau dia sudah menjadi milik pria lain. Dia juga meminta supaya aku tidak menemuinya lagi.

Dede kembali terdiam sejenak, nampak kesedihan yang amat mendalam di wajahnya. Lalu, ia melanjutkan.

Dede

(sedih)

Sejak saat itu aku tidak pernah menganggunya lagi. Aku berusaha untuk bisa melupakannya, sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya aku menerima kabar tentang kematiannya…

Alam

Dia melompat ke jurang. Kira-kira, apa yang menyebabkannya bunuh diri?

Dede

(menggeleng)

Sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti penyebabnya. Ibunya pun sepertinya sudah pasrah dengan kejadian tersebut dan untuk menjaga perasaan keluarganya kami tidak pernah lagi mengungkit-ungkit penyebab kematian Lilis.

Alam

Anda mengenal pria yang menjadi pacar Lilis itu?

Dede

(menggeleng)

Saya tidak pernah mengenalnya, Lilis sepertinya berusaha menyembunyikan identitas pria itu.

MONTAGE

- Alam nampak terdiam sesaat. Setelah meneguk secangkir tehnya, mengucapkan terima kasih dan berpamitan, dia lalu bergegas pergi.

31. Int. Jalan raya - Siang

Alam terlihat sedang mengemudikan kendaraannya dengan wajah yang sangat tegang. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.

Alam

(V.O)

Mungkinkah wanita yang telah aku akrabi selama sebulan lamanya itu telah meninggal lima tahun yang lalu? Jadi, malam itu aku melukis dan berkencan dengan hantu? Ah, lelucon apa lagi ini(tersenyum sinis). Lalu, siapakah wanita yang mengaku-ngaku sebagai Lilis itu? Atau apakah mereka semua telah bersekongkol untuk membuatku bingung seperti ini? Dan apakah semua ini ada hubungannya dengan Pak Willy? Mungkin hanya pemirsa yang tahu, aku hanyalah salah satu pemeran dalam cerita ini.

32. Int. Vila Puncak – Tengah Malam

Alam terlihat sedang melamun di atas tempat tidurnya, pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan. Tiba-tiba jendela kamar terbuka, hembusan angin kencang menerobos masuk ke ruangannya. Alam tersentak. Ruangan nampak mencekam. Wajah Alam menjadi tegang. Dia seperti mencium bau kemenyan, bulu kuduknya merinding. Keringat dingin terlihat mengucur di keningnya. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara rintihan dan isak tangis Lilis.

Lilis

(O.S)

Alam… Tolong aku.

Mendengar itu, Alam tersentak. Dia bangkit dari pembaringannya, sambil mencari-cari dimana sumber suara itu.

Alam

(mencari-cari)

Lilis? Dimana kamu?!

Lilis

(O.S)

Di sini. Di luar, Al.

Alam melompat dari tempat tidurnya dan bergegas menuju jendela kamar yang masih terbuka.

CAMERA PAN TO

Terlihat sosok Lilis dengan wajah yang pucat berdiri dalam kabut malam, melambaikan tangannya memanggil-manggil Alam.

BACK TO

Alam terlihat kaget melihat kehadiran Lilis.

Alam

(tersenyum)

Lilis?

Tanpa berpikir panjang, Alam melompati jendela kamar.

33. Ext. Vila Puncak – Tengah Malam

Lilis terlihat masih berdiri dalam kabut malam, Alam menghampirinya.

Alam

(heran)

Lilis? Darimana aja kamu? Ada apa malam-malam begini kamu ke sini?

Lilis

(panik)

Aku mau dibunuh, Al. Tolong aku.

Alam

(kaget)

Dibunuh? Siapa yang mau membunuhmu?

Lilis tidak menjawab, dia kelihatan panik seperti dikejar-kejar seseorang. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu, Alam mengejarnya dari belakang. Bersamaan dengan adegan tersebut, Alam terus memanggil-manggilnya.

Alam

(berteriak)

Lilis!

34. Ext. Hutan di daerah Puncak – Tengah Malam

Lilis berlari sangat kencang bersama kabut malam, sementara Alam terus mengejar. Bersamaan dengan adegan tersebut, Alam terus memanggil-manggilnya.

Alam

(berteriak)

Lilis!

INTERCUT

Lilis masih terus berlari bersama kabut malam, sementara Alam terus mengejarnya. Pelariannya terhenti di tepi jurang, Alam pun menghentikan larinya tidak jauh dari tempat Lilis berdiri.

Alam

(terengah-engah)

Ada apa Lilis, kamu ke sini?

Lilis tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum kemudian memandang ke dasar jurang.

Lilis

(tersenyum)

Aku ingin melompat ke bawah…

Alam

(kaget)

Apa?! Jangan Lilis, kamu bisa mati. Aku mohon!

Lilis

(menggeleng)

Nggak ada artinya aku hidup di dunia ini, Al. Semua orang menghinaku, menistakan aku.

Alam

(panik)

Itu nggak benar Lilis, aku sayang kamu. Semua orang menyayangi kamu! Aku mohon jangan lakukan itu!

Lilis

(terisak)

Aku mencintaimu, Al…

Lilis kemudian berbalik dan bersiap-siap untuk melompat. Melihat itu Alam berlari ke arah Lilis untuk menghalanginya, namun Lilis sudah terlanjur melompat. Bersamaan dengan adegan itu, Alam berteriak panik.

Alam

(panik)

Lilis!

Sebelum tubuh Lilis jatuh ke jurang, Alam berhasil meraih tangannya.

INTERCUT

Alam terus berjuang keras menahan berat badan Lilis yang menggantung di tepi jurang, tangan kirinya memegang tangkai pohon sementara tangan kanannya menggenggam tangan Lilis. Lilis hanya tersenyum. Tidak berapa lama kemudian Lilis melepaskan genggaman tangan Alam dan membiarkan tubuhnya jatuh ke dasar jurang. Alam masih berusaha menggapainya namun gagal, tubuh Lilis meluncur ke dasar jurang. Bersamaan dengan adegan tersebut, Alam berteriak histeris.

Alam

(histeris)

Lilis!

FLASHES CUT TO

35. Int. Vila Puncak – Pagi

Alam terbangun dari mimpi buruknya. Bersamaan dengan adegan tersebut, Alam berteriak histeris.

Alam

(histeris)

Lilis!

Sekujur tubuh Alam basah oleh peluh, nafasnya tersengal-sengal. Dia kemudian berusaha menenangkan dirinya. Di tariknya nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskannya pelan.

Alam

(lirih)

Alhamdulillah… Cuma mimpi…!

36. Ext. Kafé - Malam

Di halaman depan kafe, Wanita resepsionis kafé yang pernah mengaku sebagai Lilis kepada Alam nampak sedang menyetop taksi. Dia membuka pintu, lalu menaiki jok belakang. Sesaat kemudian taksi itu berlalu.

37. Int. Jalan Raya - Malam

Wanita resepsionis belum menyadari kalau supir taksi yang membawanya itu ternyata adalah Alam.

Alam

(tetap berkonsentrasi menyetir)

Kita kemana nih, Mbak?

Wanita resepsionis

Cempaka Putih, Mas.

Alam

Dari kafé ya, Mbak?

Wanita resepsionis

(acuh tak acuh)

Iya.

Alam

Kok sendiri aja, Mbak. Temen-temennya nggak pada diajak nih?

Wanita resepsionis

Oh, nggak. Aku kerja di situ.

Alam

Oh, kirain ke kafé buat gaul. Di bagian apa, Mbak?

Wanita resepsionis

Resepsionis.

Alam

Kalo boleh tau, nama Mbak siapa ya?

Wanita resepsionis

(curiga)

Kenapa emangnya?

Alam

Aku juga punya temen yang bekerja di situ, Mbak.

Wanita resepsionis

(berusaha mengenali wajah Alam dari samping)

Oh, ya? Namaku Weni, nama temen Mas itu siapa?

Alam

(Melirik dari kaca spion)

Lilis…

Wanita resepsionis

(kaget)

Lilis?(berusaha memandangi wajah Alam dengan jelas)

Oh, anu… Nama kamu siapa ya?

Alam

(tetap berkonsentrasi menyetir)

Aku, Alam. Lupa, ya? Aku kan pernah nanyain tentang Lilis ke kamu?

Wanita resepsionis

(panik)

Eh, anu. Aku turun di sini aja, ya?

Alam

(tersenyum)

Cempaka putihnya kan masih jauh, biar aku anterin sampai sana. Aku nggak bermaksud jahat kok.

Wanita resepsionis

(makin panik)

Nggak! Maksud kamu apa sih menguntit aku?!

Alam

(tertawa)

Lho, siapa yang nguntit? Tadi kan Weni sendiri yang menyetop taksi ini?

Wanita resepsionis

(emosi)

Nggak! Aku mau turun di sini aja!

Alam

(tersenyum)

Aku nggak bisa menghentikan kendaraan ini. Silahkan aja, kalau mau lompat.

Wanita resepsionis

(jengkel)

Mau kamu apa sih?!

Alam

Aku hanya ingin tahu dimana Lilis sekarang?

Wanita resepsionis

(lirih)

Aku nggak tau.

Alam menghentikan kendaraannya di jalanan yang sepi.

Alam

(berbalik menatap Wanita resepsionis itu dengan serius)

Aku mohon Wen, aku ingin ketemu Lilis sekarang juga!

Wanita resepsionis

(sinis)

Untuk apa?

Alam

Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya…

Wanita resepsionis

(serius)

Sesuatu apa? Dia nggak bakalan mau ketemu kamu.

Alam

(serius)

Aku ingin melamarnya.

Wanita resepsionis

(kaget)

Melamar? (tertawa mengejek)

Alam

(heran)

Ya, kenapa kamu tertawa?

Wanita resepsionis

(mencibir)

Emangnya udah berapa lama kalian saling kenal? Apa kamu yakin dia mau nerima lamaran kamu?

Alam

(tegas)

Ya, aku yakin! Perkenalan kami memang baru sebulan, tapi itu sudah cukup bagiku untuk memutuskan menikahinya. Kami saling mencintai…

Wanita resepsionis

(tersenyum sinis)

Ups! Cinta… Apa kamu yakin hanya dengan cinta, kamu bisa membahagiakan Lilis?

Alam

(menatap tajam)

Ya. Sekarang pertemukan aku dengannya, akan aku buktikan padamu.

Wanita resepsionis

(mencibir)

Alam

(merajuk)

Please, Wen…

Wanita resepsionis

(mengangkat bahu)

Aku pikir-pikir dulu, deh. Sekarang anterin aku ke Cempaka Putih. Tapi, aku nggak janji lho?

Alam

(tersenyum)

Oke, non.

Alam segera berbalik ke stirnya, kemudian menancap gas.

38. Ext. Kafe Tenda - Sore

Alam sedang menikmati secangkir kopi sendirian di sebuah kafe tenda dekat trotoar.

CAMERA PAN TO

Pandangannya Alam tertuju ke setiap penumpang yang turun dari bis yang berhenti tidak jauh dari tempatnya duduk.

BACK TO

Alam nampak tetap memandang dengan seksama, sambil menghirup kopinya sedikit demi sedikit.

INTERCUT

Alam masih duduk di tempatnya semula, ketika dia tiba-tiba terkesiap begitu melihat sesuatu.

CAMERA PAN TO

Lilis nampak berada diantara beberapa orang yang turun dari bis yang berhenti.

BACK TO

Alam segera bangkit, dan melangkah ke arah Lilis.

39. Ext. Trotoar - Sore

CAMERA FOLLOW

Lilis berjalan menyusuri trotoar, Alam mencoba mengejarnya dari belakang.

Alam

(berteriak)

Lilis!

Lilis berbalik dan terkejut begitu melihat Alam mengejarnya, Lilis kemudian berlalu dengan mempercepat langkahnya.

INTERCUT
CAMERA FOLLOW

Alam berhasil mengiringi langkah cepat Lilis. Sambil berjalan, Alam berusaha mengajak Lilis ngobrol.

Alam

(tegas)

Aku ingin bicara denganmu!

Lilis

(lirih)

Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi.

Alam

(menyeru)

Hei! Kenapa kamu selalu menghindari aku?!

Lilis menghentikan langkahnya, kemudian menatap Alam.

Lilis

(sedih)

Sebaiknya kita nggak usah bertemu lagi…

Alam

(heran)

Kenapa? Apa salahku?

CAMERA FOLLOW

Lilis melanjutkan langkahnya, Alam mengikuti.

Lilis

Kamu nggak salah.

Alam

Kalo gitu, kenapa dong kamu nggak mau ketemu aku?

40. Ext. Sudut Gang - Sore

Alam terus mengiringi langkah Lilis, sampai kemudian dia berhasil menahan laju Lilis dengan memegang lengannya.

Alam

(mengiba)

Lilis, please. Aku ingin ngomong sebentar aja. Biar semuanya clear.

Lilis tidak menjawabnya, dia hanya terdiam.

Alam

(serius)

Kamu kenal Pak Willy, kan?

Lilis

(kaget)

Alam

(menatap wajah Lilis)

Aku udah tahu semuanya, Lis. Kamu adalah gadis yang pernah kulihat di tepi jurang tiga tahun yang lalu…

Lilis

(mengelak)

Aku bukan Lilis yang kamu maksud itu!

Alam

Lalu untuk apa kamu menghindari aku?

Lilis

Sudahlah aku mau pulang.

Lilis mencoba melangkah, tapi Alam menghalanginya.

Alam

(menatap serius ke wajah Lilis)

Aku sudah menanyakan semua tentang kamu kepada penduduk kampung, termasuk Dede.

Lilis nampak terkejut, tetapi kemudian dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Lilis

Kalau gitu apa lagi yang mau kamu tanyakan padaku?

Alam

Aku hanya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apa benar Pak Willy telah menyakiti hatimu, menyia-nyiakan kamu?!

Mendengar itu, Lilis hanya terdiam. Tidak berapa lama kemudian, dia mulai terisak. Lilis kembali berusaha meninggalkan Alam, tetapi Alam lagi-lagi menghalanginya.

Lilis

(terisak)

Tinggalkan aku sendiri, Al.

Alam

(memegang pundak Lilis)

Nggak, aku nggak akan ninggalin kamu. Apapun yang terjadi!

Lilis

(menatap wajah Alam sambil terisak)

Kenapa?

Alam

(serius)

Karena aku mencintaimu Lilis, sangat mencintaimu! Aku nggak perduli apapun yang pernah terjadi padamu, aku akan tetap mencintaimu.

Lilis

(menggeleng)

Nggak, aku nggak mau ngelibatin kamu dalam hal ini. Kalau kamu memang mencintaiku, tinggalkan aku…

Alam

(tegas)

Aku mencarimu kemana-mana. Sekarang aku telah menemukanmu dan aku nggak akan membiarkanmu pergi!

Lilis

(lirih)

Sekarang mau kamu apa?

Alam

Lilis… Aku nggak bermaksud mengungkit-ungkit masa lalumu, aku nggak bermaksud membuka kembali luka lamamu. Aku hanya ingin tahu apa yang sesungguhnya pernah terjadi padamu. Apakah yang mereka katakan itu benar?

Lilis

(menyeka air mata yang membasahi pipinya)

Baiklah, kalo memang itu maumu. Aku akan ceritain semuanya di rumah.

Alam mengangguk mengiyakannya, mereka kemudian berlalu dari tempat itu.

41. Int. Rumah Lilis - Sore

Lilis melangkah masuk, Alam mengikutinya dari belakang.

Lilis

Silahkan duduk dulu.

Alam

Ya, makasih.

Alam menurutinya dengan menduduki salah satu dari empat buah kursi plastik yang mengelilingi meja persegi di ruangan tamu yang sempit itu. Lilis kemudian membuka jendela, keadaan ruangan yang agak gelap menjadi terang. Alam memandangi seisi ruangan, Lilis melangkah ke ruang belakang meninggalkannya sendirian.

INTERCUT

Lilis kembali dari ruang belakang dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan setoples kue. Sambil meletakkan isi nampannya di atas meja di depan Alam duduk, Lilis mempersilahkan tamunya.

Lilis

Silahkan.

Alam

(sambil menatap wajah Lilis)

Makasih.

Alam meneguk isi cangkir. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Tidak berapa lama kemudian Bu’ Yuni muncul bersama Bintang dalam gendongannya, dan tiga orang adik Lilis.

Bu’ Yuni

(tersenyum)

Assalamualaikum…

Lilis

(menoleh)

Waalaikumsalam…

Bintang

(berteriak)

Mama!

Alam nampak terkejut mendengar Bintang memanggil Lilis dengan sebutan Mama. Bu Yuni menurunkan Bintang dari gendongannya, anak itu berlari ke arah Lilis. Lilis menyambutnya dan menggendongnya.

Lilis

(mencium pipi Bintang)

Dari pasar ya, sayang?

Bintang

(mengangguk-angguk tersenyum)

Bu’ Yuni tersenyum kepada Alam, kemudian menghampiri dan menyalaminya. Ketiga adik-adik Lilis juga ikut menyalami Alam.

Bu’ Yuni

(tersenyum mengulurkan tangannya)

Apa khabar, nak Alam?

Alam

(tersenyum menyambut uluran tangan Bu Yuni dan adik-adik Lilis)

Baik, bu. Dari pasar?

Bu’ Yuni

(tersenyum)

Iya, nih. Silahkan diminum, nak. Ibu ke belakang dulu.

Alam

(mengangguk tersenyum)

Ya, Bu.

Bu’ Yuni dan ketiga anaknya kemudian berlalu bersama barang belanjaannya.

INTERCUT

Lilis sambil menggendong Bintang menghampiri Alam dan duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi tempat Alam duduk. Alam mendekatkan wajahnya ke arah Bintang dengan ramah sambil mencolek pipi anak itu.

Alam

(tersenyum)

Hai, cowok. Namanya siapa?

Bintang

(tersipu)

Lilis

(tersenyum ke arah Bintang)

Bintang.

Bintang

(lirih)

Ntang…

Alam

(tersenyum)

Nama yang bagus. Umurnya berapa?

Lilis

Empat setengah tahun.

Alam

(serius ke arah Lilis)

Dia memanggilmu Mama…

Lilis

(dengan nada getir, sambil mengusap kepala Bintang)

Aku memang Mamanya, aku yang mengandung dan melahirkannya.

Mendengar penjelasan Lilis, Alam terdiam sesaat.

Alam

(lirih)

Pak Willy?

Lilis

(diam)

Alam

Pak Willy mengetahuinya?

Lilis

(menggeleng)

Alam

Kenapa?

Lilis

(lirih)

Percuma, dia nggak akan pernah mau mengakui darah dagingnya sendiri…

Suasana hening sesaat. Bintang tiba-tiba rewel, Lilis mendekapnya erat.

Lilis

(menatap Bintang)

Ada apa sayang, mau bobo’ ya?

Bintang tetap rewel, Lilis kemudian bangkit dan membawa anak itu ke kamar.

INTERCUT

Lilis berdiri menghadap jendela sambil memandang keluar, Sementara Alam berdiri di belakangnya.

Alam

Mengapa penduduk kampung mengira kamu telah mati bunuh diri?

Lilis

(lirih)

Aku memang pernah berniat melakukannya…

Alam

Kenapa kamu melakukan itu?

Lilis

(sedih)

Aku telah mengandung anaknya, tetapi dia malah menyuruhku menggugurkannya. Aku kemudian mengancam akan melaporkan semuanya kepada istri pertamanya dengan harapan dia mau berubah pikiran. Akan tetapi dia malah menyakiti aku dan mengancam akan membunuhku. Malam itu aku kabur. Dia terus mengejarku, aku kemudian bersembunyi di sebuah gubuk di tengah hutan.

Alam

Kenapa kamu nggak minta tolong kepada penduduk?

Lilis

Waktu itu malam udah larut, nggak ada orang yang mendengar teriakanku.

Alam

Nggak ada seorang pun?

Lilis terdiam sesaat, seperti memikirkan sesuatu.

Lilis

Dalam persembunyianku, aku melihat Dede. Aku kemudian meminta tolong kepadanya…

Alam

Dia menolongmu?

Lilis

(menggeleng)

Nggak… (Pandangan Lilis menerawang, dia kemudian menitikkan air mata) Dia nggak menolongku, dia malah menyakiti perasaanku…

Alam

Apa yang dia lakukan?

Lilis

(terisak)

Dia melecehkan aku, dia menyebutku pelacur…

Alam

(emosi)

Apa? Pelacur?! Shit!

Lilis

(terisak)

Sejak aku memutuskan menerima lamaran Pak Willy, dia sangat kecewa. Aku akui aku memang telah menyakiti perasaannya. Tapi aku nggak nyangka dia akan tega menuduhku seperti itu…

Alam menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya sekencang-kencangnya.

Lilis

(terisak)

Malam itu aku sangat kecewa. Aku benar-benar kalut, aku nggak tau mesti gimana. Aku malu untuk kembali ke rumah. Apa kata orang nantinya, melihatku mengandung dan kemudian melahirkan tanpa seorang suami. Orang-orang kampung pasti akan meneriaki aku pelacur seperti Dede. Aku benar-benar putus asa…

Alam

(sedih)

Lalu kamu memutuskan untuk mengakhiri hidupmu?

Lilis

(mengangguk)

Ya, sepanjang malam aku memikirkannya. Tapi, syukurlah pagi itu aku berubah pikiran. Aku ke Jakarta, kemudian keesokan harinya aku ke Bali. Di sana aku bertemu seorang teman, dan atas bantuannya aku bisa bekerja di sebuah restoran di Kuta.

Alam

Setelah itu kamu balik ke Jakarta lagi?

Lilis

(mengangguk)

Dua bulan yang lalu aku balik ke sini, setelah aku mendengar ibu sering sakit-sakitan. Aku memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta agar bisa lebih dekat dengan ibu dan adik-adikku. Aku sangat bersyukur bisa berkumpul dengan mereka lagi.

Alam

Kamu nggak pernah berniat untuk menuntut Pak Willy?

Lilis

(menggeleng)

Nggak. Aku udah pasrah, semuanya sudah terjadi. Aku nggak mau mikirin dia lagi. Yang ada dalam benakku sekarang hanyalah bagaimana menghidupi ibu, adik-adik, dan Bintang. Aku selalu bekerja dan berdoa hanya untuk mereka…

Alam

(menatap wajah Lilis)

Lalu, kenapa pagi itu kamu meninggalkan aku begitu aja tanpa pamit dan kemudian menghindari aku?

Lilis terdiam sesaat.

Lilis

(lirih)

Aku nggak mau melibatkan kamu dalam masalahku, aku juga nggak mau merusak hubunganmu dengan bosmu itu.

Alam

(emosi)

Pak Willy? Dia telah menghancurkan hidupmu, menyia-nyiakan kamu. Persetan dengan orang tua sialan itu!

Lilis

(kaget)

Alam

Selama ini dia memang sangat baik padaku dan aku juga nggak akan melupakan kebaikannya itu. Tapi setelah mengetahui semuanya, simpatiku padanya luntur…

Suasana hening sesaat.

Alam

(lembut)

Lilis, kamu mencintaiku?

Mendengar itu, Lilis terdiam sesaat.

Lilis

(lirih)

Aku nggak tau, apakah aku masih mempunyai cinta…

Alam

(memegang pundak Lilis)

Kamu masih mempunyai cinta, Lilis. Berilah aku kesempatan untuk membuktikannya… Kamu masih pantas untuk dicintai dan mencintai lagi.

Lilis berbalik ke arah Alam, kini mereka saling berhadap-hadapan.

Lilis

Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Aku nggak mau cita-citamu sirna hanya karena mencintaiku. Aku mohon lupakanlah aku.

Alam

(tersenyum)

Cita-citaku nggak akan sirna hanya karena mencintaimu. justru sebaliknya, darimu aku menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Darimu aku menemukan ketulusan hati seorang wanita, darimu aku menemukan ketabahan, dan darimu aku menemukan apa itu cinta. Kamulah sumber inspirasiku selama ini.

Lilis tersipu, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.

Lilis

Pulanglah… Tinggalkan kami. Terima kasih atas semua perhatianmu selama ini, aku nggak akan melupakannya.

Alam

(menatap tajam ke arah Lilis)

Lilis, aku ingin melamarmu!

Lilis tersentak seketika, dan berbalik ke arah Alam.

Lilis

(kaget)

Apa?!

Alam

(bersemangat)

Aku ingin menikahimu, aku ingin menjadi ayah bagi Bintang. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kalian berdua.

Lilis

(tersenyum sinis)

Kamu bercanda…

Alam

(serius)

Aku serius! Swear! Besok aku akan membawa ayah-ibuku ke sini.

Lilis

(panik)

Nggak, kamu jangan nekat begitu!

Alam

Oke, kalo gitu aku akan beri kamu kesempatan untuk berpikir.

Lilis terdiam sesaat.

Lilis

Udah malam. Aku capek, mau istirahat. Pulanglah…

Alam

Kapan aku bisa ke sini lagi?

Lilis

Terserah kamu, kapan aja kamu boleh datang ke sini. Tapi aku nggak janji akan memberikan jawaban secepat itu.

Alam

(tersenyum lega)

Oke, kalo gitu aku pulang dulu.

Alam kemudian melangkah ke pintu, Lilis mengikutinya. Alam membuka pintu.

42. Ext. Rumah Lilis - Malam

Sebelum Alam pergi, dia berbalik ke arah Lilis yang masih berdiri diambang pintu.

Alam

(tersenyum ke arah LiLis)

I love you…

Lilis

(balas tersenyum)

Nggak nanya…

Alam

(tertawa)

Bibirmu nggak nanya, tapi hatimu…

Lilis

(tersenyum jengkel)

Sok tau!

Alam

(tersenyum)

Selamat malam.

Lilis

(balas tersenyum)

Malam… Hati-hati.

Alam kemudian melangkah pergi meninggalkan Lilis.

43. Int. Kantor Pak Willy - Pagi

Pak Willy nampak sedang bermesraan dengan sekretarisnya, ketika Alam tiba-tiba muncul dari balik pintu. Keduanya tersentak dan buru-buru menghentikan kegiatannya.

Pak Willy

(kaget)

Oh, Al?

Alam

(dingin)

Maaf, saya ada perlu dengan Anda.

Pak Willy memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk meninggalkan mereka berdua, wanita itu pun bergegas pergi.

Pak Willy

(tersenyum)

Silahkan duduk, Al?

Alam

(meletakkan amplop besar di atas meja Pak Willy)

Saya hanya ingin mengembalikan ini.

Pak Willy

(heran)

Apa itu?

Alam

Itu uang yang pernah Anda berikan pada saya untuk investasi galeri. Saya sudah memutuskan untuk kembali ke galeri saya yang lama.

Pak Willy

(bingung)

Lho, kenapa, Al?

Alam

(menuding emosi)

Saya nggak mau bekerja sama dengan pria bejat seperti Anda!

Pak Willy

(berdiri emosional)

Apa-apaan kamu?!

Alam

(menarik dan menggenggam kerah baju Pak Willy dengan emosi)

Nggak usah berpura-pura, saya sudah tahu semuanya. Semua ini Anda lakukan hanya untuk menutupi masa lalu Anda dengan Lilis! Anda telah menyia-nyiakan Lilis!

Pak Willy

(gugup, berusaha membujuk Alam)

Saya kira kita bisa bicara baik-baik. Kita nggak perlu emosi begini, Al.

Alam

(melepaskan genggamannya)

Pak Willy

(memperbaiki kerah bajunya yang acak-acakan)

Saya memang bersalah, Al.

Alam

(sinis)

Pak Willy

Kami memang pernah berhubungan lima tahun yang lalu, kami menikah di bawah tangan. Saya menjadi panik ketika dia menuntut untuk dinikahi secara resmi setelah dia mengandung. Dia mengancam akan melaporkan keadaannya kepada istriku. Waktu itu saya sangat emosional, saya memukulnya. Dia lalu kabur ke rumah ibunya. Keesokan harinya saya mendengar kabar kalau dia meninggal karena bunuh diri. Saya tidak menduga kalau akan berakhir seperti itu. Saya sangat menyesal… (sedih).

Alam

(menatap tajam)

Kabar kematiannya membuat Anda merasa aman, lalu Anda menggunakan segala cara agar pihak keluarga Lilis tidak menuntut Anda sebagai penyebab Lilis bunuh diri. Anda kemudian terusik ketika melihat lukisan Lilis di galeri saya, Anda mencoba mencari tahu keberadaan Lilis dari saya. Sekarang Lilis ternyata masih hidup, lalu mau Anda apa?

Pak Willy

(menghela nafas)

Saya ingin meminta maaf padanya, saya sangat menyesal. Saya berjanji akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya, berapapun yang dia minta akan saya berikan.

Alam

(sinis)

Dia nggak butuh uang Anda.

Pak Willy

Lalu, apa yang dia butuhkan? Rumah? Mobil? Kalian boleh menikah dan berbulan madu ke luar negeri, semua fasilitas akan saya berikan.

Alam

(menggeleng)

Dia butuh pertanggung jawaban Anda sebagai ayah dari anaknya!

Pak Willy

(kaget)

Apa, anak?

Alam

(sinis)

Ya, darah daging Anda sendiri yang telah Anda sia-siakan.

Pak Willy

(ragu-ragu)

Tapi, Al?

Alam

(bergegas untuk pergi)

Saya kira pejelasan dari saya sudah cukup. Saya beri Anda kesempatan untuk berpikir, kalau Anda setuju saya akan pertemukan Anda dengan Lilis dan Bintang.

Pak Willy

(dengan suara bergetar)

Bintang, anakku?

Alam tidak menanggapinya, dia meninggalkan Pak Willy begitu saja.

Pada saat Alam keluar dari ruangan, ia berpapasan dengan Tante Anita yang ternyata mendengarkan pembicaraan dari luar. Mata Tante Anita berkaca-kaca. Alam berlalu.


Anita melangkah masuk ke ruangan Pak Willy. Pak Willy kaget segera menghampiri istrinya.

Pak Willy
Kamu kok…kemari? Ada apa?

Tante Anita
(emosi, ditamparnya suaminya)
Bajingan! Aku sudah dengar semuanya!
Aku sudah muak dengan ulahmu!

Tante Anita kemudian berlalu.

Pak Willy
Mama! Tunggu!

Anita

(sambil berlalu tak menoleh lagi)
Aku akan urus perceraian kita segera!

Tante Anita meninggalkan Pak Willy sambil menangis penuh amarah. Pak Willy putus asa.

Pak Willy
(V.O)
Aku tidak mau kehilangan segalanya.

Kalau aku kehilangan istriku, aku harus

Mendapatkan Lilis dan anakku kembali!

44. Ext. Rumah Lilis - Sore

Lilis nampak sedang bercanda dengan Bintang di teras, mereka kelihatan sangat bahagia. Keceriaan itu terhenti, ketika Alam dan Pak Willy tiba-tiba hadir disitu.

Alam

(ramah kepada Lilis)

Selamat sore…

Lilis

(kaget, menatap tajam ke Pak Willy)

Sore…

Alam

(tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke Bintang)

Hai, Bintang. Sini, sama om?

Bintang menyambutnya, Alam meraih anak itu dari Lilis. Lilis kemudian menatapnya terharu.

Alam

(menatap Lilis)

Lis, kamu nggak mempersilahkan tamumu masuk?

Lilis

(gugup)

Oh, silahkan masuk…

Pak Willy

(tersenyum getir)

Terima kasih…

Pak Willy kemudian melangkah memasuki rumah, namun Alam tetap tinggal di teras bersama Bintang dan memberi isyarat agar Lilis ikut masuk. Lilis nampak ragu, sebelum akhirnya dia masuk.

45. Int. Rumah kontrakan Lilis - Sore

Lilis nampak berdiri di depan jendela, dia memandang keluar. Sementara Pak Willy berdiri di belakangnya, ikut menyaksikan kegembiraan Bintang bersama Alam.

CAMERA PAN TO

Alam nampak sedang bercanda dengan Bintang di teras, mereka kelihatan sangat akrab.

BACK TO

Lilis nampak terharu menyaksikan keakraban mereka. Pak Willy mencoba membujuk Lilis untuk menerimanya kembali.

Pak Willy

(menatap Lilis)

Saya harap Lilis mau mempertimbangkannya lagi, demi anak kita.

Lilis

(membisu)

Pak Willy

(memelas)

Beri saya kesempatan untuk menebus dosa-dosa saya, Lis.

Lilis

(lirih)

Saya belum bisa mengambil keputusan sekarang…

Pak Willy

(mengangguk)

Nggak apa-apa, saya akan menunggu. Boleh saya berkenalan dengan Bintang?

Lilis

Ya, mari kita keluar.

46. Int. Rumah Lilis - Sore

Lilis dan Pak Willy mendatangi Alam dan Bintang yang masih asyik bercanda.

Lilis

(tersenyum)

Bintang…

Bintang

(menoleh tersenyum)

Mama…

Pak Willy kemudian menghampiri Bintang dan meraihnya dari Alam. Pak Willy mendekap dan menciumnya akrab, namun Bintang mengelak dan meronta-ronta ketakutan. Bintang menangis dalam gendongan Pak Willy, dia mengulurkan tangannya kepada Alam.

Bintang

(merengek)

Gak mau! Om, Alam.

Alam lalu meraih kembali Bintang dari Pak Willy, anak itu memeluk Alam erat-erat dan menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Pak Willy. Lilis yang menyaksikan kejadian itu nampak sangat terharu, dia menitikkan air mata.

Alam

Dia ayah kamu, Bintang…. Oom harus pergi.

(berlalu secara paksa melepaskan pelukannya pada Bintang)

Bintang
Oom! Oom Alaammmm!!
(menangis)

Lilis dan Pak Willy menatap nelangsa melihat kejadian itu. Pak Willy mencoba memeluk Bintang lagi, tapi Bintang meronta.

Bintang
Bintang nggak kenal siapa Oom!
Bintang mau ayah seperti Oom Alam!

(lari masuk ke dalam rumah)

Lilis
Bintang!

Pak Willy
Dia perlu waktu untuk menerima kenyataan ini, Lis. Walau bagaimanapun saya adalah ayahnya, saya yang berhak atas dirinya, bukan Alam! Ingat itu.

Lilis
(menatap Pak Willy sinis)
Jangan bicara soal hak… Apakah kamu menunaikan kewajiban kamu selama ini sebagai seorang ayah?

Pak Willy
(terdiam)

Lilis
kamu tidak pernah mengakuinya. Kamu bahkan tidak pernah menginginkannya! Kamu mau menyingkirkan dia dan saya!(emosi)Sekarang kamu datang menagih hakmu. Apa kamu punya bukti? Apa kamu punya surat nikah dengan saya? Apa namamu ada dalam surat akte kelahiran Bintang?

Willy
(menunduk, tahu kalau ia dalam posisi yang lemah)

47. INT. Rumah Alam – Pagi

Alam menerima kedatangan Bu Anita yang menangis padanya.

Tante Anita
Sebetulnya sejak lama saya sudah curiga.

Tapi saya diam saja, tidak berani bertanya-tanya.

Sekarang saya tidak tahan lagi.

Saya sudah minta cerai…

Alam
Saya minta maaf… Kalau saya menjadi salah satu

pemicu keretakan rumah tangga Tante…

Tante Anita
Justru sebaliknya, kamulah yang telah membuka

Mata saya, Al. Perbuatannya sudah sangat

Keterlaluan. Kalau Cuma main serong dan selingkuh

saya masih bisa memaafkan. Tapi kalau sampai

Ingin menyingkirkan darah daging sendiri…

Itu sudah sangat tidak manusiawi.

Saya tidak mau hidup dengan manusia berhati binatang…

Alam
Semoga tante tabah menghadapi semua ini

Tante Anita
Don’t worry. Mengenai rencana kerja sama kita,

tetap akan berjalan. Saya yang akan mengambil

Alih proyek itu. Pak Willy sebetulnya bukan

Siapa-siapa, Al. Sayalah yang memiliki segalanya…

Dia hanya ikut menikmatinya, dia telah memanfaatkan saya….

Terdengar suara Pak Pos.

Pak Pos

(O.S)

Spada… Pos!!!

Alam
Sebentar ya, tante….

INTERCUT.

48. Ext. Rumah Alam - Pagi

Alam menyambut tukang pos yang memberikan sepucuk surat, dia segera membacanya begitu tahu surat itu dari Lilis. Alam membalik amplop. terlihat tulisan pada amplop belakang:

ZOOM IN Dari Lilis.

Alam membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas surat. Bibirnya merekah tersenyum saat membaca surat. Alam langsung melompat kegirangan ke mobilnya dan berlalu setelah mencium Pak Pos. Pak Pos bengong dicium Alam.

Alam
(girang)

Cihuyyy!!!

Alam kemudian berlalu bersama mobilnya, Tante Anita bergegas keluar melihat apa yang terjadi.

Tante Anita
(heran)
Lho, Al? Alam? Mau kemana kamu?

Alammm!!!

49. Ext. Jalanan – Montage

Montage diselingi O.S dari Lilis.

Lilis

(O.S)

Dear Alam… Terima kasih atas cintamu selama ini. Perhatianmu padaku telah membangkitkan gairah hidupku yang selama ini beku. Kasih sayangmu telah membuatku menemukan kembali rasa cintaku pada seorang pria yang aku kira telah sirna. Aku sangat berterima kasih atas keinginanmu untuk menikahiku. Tapi aku pikir itu terlalu cepat bagi kita, kita masih perlu waktu untuk saling memahami pribadi kita masing-masing. Biarlah waktu yang akan membimbing kita untuk mewujudkan hubungan kita dalam suatu ikatan perkawinan nanti. Percayalah aku akan selalu menunggumu, sampai saat indah itu datang menjemput kita berdua. Salam rindu dari Bintang… Dariku yang selalu mencintaimu, Lilis.

- pemandangan alam menuju rumah Lilis

- Alam mengendarai mobilnya

- Alam tiba di depan rumah Lilis

- Lilis dan Bintang menyambutnya dengan surprise

- Alam berpelukan dengan Bintang

- Alam, Bintang, dan Lilis berpelukan bertiga.

FREEZE PICTURE

ROLLING CLOSING TITTLE

THE END/SEKIAN

Jakarta, June 1st 2002

Written by Adn@n Abdullah

Supervised By Zara Zettira ZR & Zsolt Zsemba





4 komentar:

Seni mengatakan...

Wah, ternyata menulis skenario film detail sekali, ya....
Salam.

adn@n mengatakan...

Iya. tapi ada juga model skenario yang sederhana, seperti skenario sitkom Bajaj Bajuri dan Kejar Kusnadi misalnya.

Dendi mengatakan...

terima kasih atas sharing skenarionya.. saya juga lagi coba2 bikin skenario buat film komunitas kami.. tulisan ini membantu sekali..

denny ardiansyah mengatakan...

Panjang juga ya skenario'y ...thx sangat membantu kami